Sabtu, 30 Juni 2012

Pantai Pasir Putih "Tanjung Bira" - Bulukumba, Sulawesi Selatan


Pantai pasir putih tanjung bira adalah salah satu pantai pasir putih tujuan wisata yang cukup terkenal di dunia. Banyak tourist local maupun mancanegara yang datang ke pantai ini setiap tahunnya. Dahulu pantai ini sangat tidak terawat bahkan untuk mendapatkan air bersih sangatlah sulit, namun kini pantai ini telah menjelma menjadi salah satu tujuan wisata yang patut di acungi jempol dengan pesona pasir putihnya yang lembut seperti tepung hingga kejernihan air lautnya. Bahkan kini beberapa tourist mancanegara membagun beberapa tempat yang memfasilitasi pengunjung yang ingin merasakan keindahan bawah laut bira dengan snorkeling maupun diving.

Tanjung Bira terletak di daerah ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari,  Kabupaten Bulukumba. Tanjung Bira terletak sekitar 40 km dari  Kota Bulukumba, atau 200 km dari Kota Makassar. Perjalanan dari Kota Makassar  ke Kota Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum berupa mobil Kijang, Panther atau Innova dengan tarif sebesar Rp. 35.000,-. Selanjutnya,  dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil  pete-pete (mikrolet) dengan tarif berkisar antara Rp. 8.000,- sampai – Rp.  10.000,-. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar 3 –  3,5 jam.

Jika pengunjung berangkat dari Bandara  Hasanuddin, langsung menuju ke terminal Malengkeri (Kota Makassar) dengan  menggunakan taksi yang tarifnya sekitar Rp. 40.000,-. Di terminal ini kemudian naik bus tujuan Bulukumba atau yang langsung ke Tanjung Bira.
Biaya tiket masuk ke lokasi Pantai Tanjung  Bira sebesar Rp. 5.000,-.

Kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, villa, bungalow, dan hotel dengan tarif mulai dari Rp. 100.000,- hingga Rp. 600.000,-  per hari. Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkling dengan tarif Rp. 30.000,-. Bagi pengunjung yang selesai berenang di pantai,  disediakan kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut  yang masih lengket di badan. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor dengan tarif Rp. 65.000,-. Di kawasan pantai  juga terdapat pelabuhan kapal ferry yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin berwisata selam ke Pulau Selayar.

Berikut saya sajikan beberapa foto-foto dari Pantai Tanjung Bira. Let’s Cekidot….


                                          Tempat penyewaan peralatan diving dan snorkeling



















                                                               Wahana Banana Boat





                                          Penjualan aneka Souvenir karya masyarakat sekitar











                                      Banyak pengunjung yang datang untuk melihat SUNSET



                  
                                                       SUNSET di Pantai Tanjung Bira




Sabtu, 17 Maret 2012

CARA BELI COIN DD TANK

Sudah sebulan ini saya lagi autis-autisnya main game dd tank di facebook, permainannya mirip dengan game zaman SMP saya yaitu "gunbound", namun menurut saya game ini lebih unggul karena tidak perlu di instal di computer dan karakternya bisa di modifikasi sesuai dengan keinginan kita. bagi yang ingin mencoba bisa login ke http://ddtank.game321.com/. Namun saat pertama kali bermain ada beberapa item yang bila ingin kita tambahkan pada karakter kita, maka kita harus membelinya.

Alhamdulillah setelah mencoba klik sana sini, akhirnya saya berhasil membeli coin dd tank dan membuat karakter saya menjadi lebih keren dari pada sebelunya meskipun dengan dana terbatas. langsung saja saya ingin berbagi cara membeli coin dd tanknya. cekidot...



1. Saat page starter dd tank tampil di facebook anda klik pilihan get coins seperti gambar diatas



2. Pilihlah server tempat anda bermain dd tank, atau tempat coin anda ingin dikirim. 





3. anda bisa langsung memilih server "Super Rewards" lalu pilihlah nominal jumlah coin dan harga yang anda inginkan.

4. setelah itu tentukanlah jenis pembayaran yang akan dilakukan.


5. Bila anda ingin yang praktis cobalah untuk membeli coin dengan pemotongan langsung dari pulsa anda. Pilih pembayaran dengan handphone lalu klik tombol "purchase".


6. Setelah itu akan muncul tampilan seperti gambar di atas. Lalu kirim sms dengan format, ketik " PASS " kirim ke 9779.

7. Setelah sms anda berhasil dikirim anda akan menerima sms yang berisi kode yang akan di tukarkan dengan coin yang anda inginkan.

8. Masukkan code tersebut pada colom yang telah tersedia, lalu klik OK. 

9. Coin anda telah masuk ke dalam akun game dd tank anda.

Sekian ilmu yang bisa saya bagi pada kesempatan kali ini, semoga bisa membatu teman-teman sekalian yg kesulitan dengan cara membeli coin dd tank, apabila ada pertanyaan silahkan contact saya dengan cara memention saya di twitter. "KLIK BURUNG TWITTER PADA BLOG SAYA"











Minggu, 26 Februari 2012

MENCIPTAKAN ANAK YANG BERIMAN,BERTAQWA DAN CERDAS LAHIR BATHIN





Pagi ini seperti biasanya, sehabis sholat subuh saya kembali mengikuti ceramah Uztad Muh. Nur Maulana di trans tv. Guru SD ku ini sekarang sudah terkenal di seluruh Indonesia, beliau memang wajar kalau mendapat berkah seperti yang dirasakannya saat ini, karena berkat sikap ramah dan baiknya banyak orang yang mendoakan kebaikan untuknya. Pagi ini sang uztad membagikan ilmunya kepada ibu-ibu di seluruh tanah air, bagaimana cara mendoakan dan memperlakukan anak agar nantinya bisa menjadi anak yang pintar, soleh dan berbudi luhur. Berikut adab-adab dan doanya.


1. Dudukkanlah sang anak di depan ibu dengan kaki bersilah dan dengan kaki kanan berada di bagian luar. (paling baik di lakukan saat malam jumat setelah sholat magrib)

2. Bacalah doa “ Rabbi zidni `ilman, warzuqni fahman “ lalu tiupkan ke ubun-ubun sang anak.


3.  Kemudian bacalah :
surah / surat : Ali Imran Ayat : 200

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ishbiruu washaabiruu waraabithuu waittaquu allaaha la'allakum tuflihuuna

Artinya : 200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.
Lalu tiupkan pada telinga kanan sang anak, setelah itu lakukan hal yang sama sekali lagi lalu tiupkanlah pada telinga kiri sang anak.

4. Kemudian bacalah: “ Rabbi Sharli Sadri wa yasirli amri wahlul uqdatan min-lisani yafqahu qawli ” kemudian buka mulut anak lalu tiupkan kedalamnya.

5. Lalu berdoalah untuk kebaikan anak : “ ya allah jadikanlah anak ku menjadi anak yang soleh, sabar, berbakti,  pandai dan cerdas ". Lalu tiupkan pada pundak kanan anak setelah itu ulangi lagi kemudian tiupkanlah pada pundak kiri anak.

6. Lalu tutuplah dengan membaca shalawat nabi : “ Allahumma salli `ala muhammadin wa`ala ali Muhammad ” lalu tiupkanlah ke seluruh tubuh anak.

7. Setelah semua doa di atas dilakukan lalu tunggulah hingga anak tidur, ketika si anak telah tertidur pulas bacalah surah Al-Qadr.
surah / surat : Al-Qadr Ayat : 1
innaa anzalnaahu fii laylati alqadri
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan[1594].
[1594] "Malam kemuliaan" dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam "Lailatul Qadr" yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al-Qur'an.
surah / surat : Al-Qadr Ayat : 2
wamaa adraaka maa laylatu alqadr
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
surah / surat : Al-Qadr Ayat : 3
laylatu alqadri khayrun min alfi syahrin
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
surah / surat : Al-Qadr Ayat : 4
tanazzalu almalaa-ikatu waalrruuhu fiihaa bi-idzni rabbihim min kulli amrin
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
surah / surat : Al-Qadr Ayat : 5
salaamun hiya hattaa mathla'i alfajri
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. 

Lalu setelah membacanya tiupkan pada telinga kanan anak selagi ia tertidur.
Insya allah selah semua kegiatan ini ilakukan, anak menjadi lebih baik dan lebih cerdas.
Amin ya rabbal alamin.

Sabtu, 04 Februari 2012

Aku Terpaksa Menikahinya





Kisah inspiratif untuk para istri dan suami

Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!


Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Sumber : http://bundaiin.blogdetik.com/2011/10/07/kisah-inspirasi-untuk-para-istri-dan-suami/

Selasa, 03 Januari 2012

TUA BERSAMA SAHABAT




Senang rasanya karena masih diberikan tambahan umur oleh Allah SWT. Pada tanggal 20 November 2011 kemarin saya sudah menjadi semakin tua dengan umur 23 tahun. Pada postingan hari ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat-sahabat ku yang telah memberikan doa dan kado spesial di hari spesial ku.
            Dari sekian banyak sahabat-sahabat ku, saya ingin menceritakan beberapa orang dari mereka pada postingan kali ini. Mereka adalah sahabat-sahabat terbaik ku yang selalu mendukung dan berusaha membangun karakter megah di dalam diri ku. Dan inilah mereka :


1. Andi Syamsul Bakhri : Seorang sarjana farmasi yang saat ini sedang melanjutkan kuliah profesi apotekernya. Dia adalah sahabat saya dari sejak SMP. Pria cerdas ini adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Anak seorang anggota polisi militer yang senantiasa menjadi cerminan hidup ku, tempat belajar banyak hal dan tempat berbagi suka maupun duka. Dari SMP, SMA, dan sampai sekarang kami masih sering berbagi banyak hal, mulai dari saling berbagi ilmu pelajaran, Software computer terbaru, dan tentunya film-film terbaru hasil downloadan-nya. Semoga bisa jadi apoteker yang baik my bro J

2. Munandar Makmun (ACHO) : Si kecil yang aktif dan kuat. Dialah sang petualang sejati, ia sangat senang menjalani aktifitas yang menantang nyali, mulai dari balapan liar setiap malam minggu (sekarang sudah taubat) sampai pergi mendaki ke lembah dan gunung di sulsel. Meskipun badannya kecil, namun keberaniannya luar binasa (kecil-kecil cabe rawit). Si kecil ini adalah seorang sahabat yang selalu ada ketika di butuhkan, meskipun dalam kenyataannya dia lebih sering membutuhkan kami ketika ia sedang kecelakaan. Entah sudah menjadi hobby atau sudah garis tangannya untuk rajin kecelakaan, namun inilah dia sang semut hitam kecil yang perkasa.

3. Hady Kusuma Ningrat : Dari namanya dia nampak bagaikan seorang berdarah biru, namun dalam kehidupan nyata masih perlu di pertanyakan, hehehehehe.... sang lelaki cool ini adalah berangkas pribadi ku, banyak cerita-cerita dan kisah-kisah suram ku yang terekam oleh otaknya. Kalau mau bercerita tentang kisah cintanya dialah sang pecinta sejati, mencintai tanpa harus memiliki. Dia juga adalah orang yang sederhana namun kaya akan jiwa seni. Masih ku ingat sewaktu jaman mahasiswa baru dulu, begitu banyak tugas menggambar anatomi, namun semuax tidak terasa sulit berkat sobat ku yang satu ini.

4. Muh. Ardani Samad : Pak guru matematika yang mempunyai cita-cita untuk menjadi seperti Etta-ku (panggilan bapak suku bugis) yaitu menjadi seorang guru yang berbakti pada Negara. Dia adalah seorang pecinta sejati, kaya akan trik dan jurus jitu dalam percintaan, meskipun perjalanan cintanya selalu saja mendapat hambatan.

5. Rafika Maharani : Seorang wanita cerdas dengan ego dan pemikiran yang unik, tidak seperti wanita pada umumnya. Sahabat spesial ku, itulah julukan ku untuknya, dialah tempatku berkeluh kesah, dialah yang senantiasa mendampingiku dikala suka maupun duka. Dengan kasih sayang dan perhatiannya mampu membuat orang di sekitarnya menaruh simpati terhadapnya. Saya belajar banyak pelangalaman berharga darinya, mulai dari reaksi “berontaknya” terhadap tekanan kaum pria terhadap perempuan, samapai bagaimana tidak terlihat lemah dan tetap tegas di depan setiap orang. Meskipun ia memiliki tingkat emotional yang tinggi namun saya dapat maklum dengan sikapnya itu, karena dia banyak mendapat ketidak adilan di dalam hidupnya.

6. Eka Wulandari : Terakhir ketemu dengannya 10 tahun yang lalu saat di bangku SMP, saat itu dia masih polos dan belum banyak dosa. Namun sekarang dia sudah tampak berbeda, pikirannya telah jauh berkembang dan dihiasi dengan berbagai mimpi yang jarang terpikirkan oleh orang lain. Hidup ala kaum sosial itu lah sebutan ku untuk cara hidupnya. Saya begitu kagum dengan dirinya yang hidup dengan bergelimang sahabat dan kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Itulah yang membuat ku iri kepadanya, mimpi ku untuk bisa berinteraksi dengan banyak orang dengan berbagai karakter masih tersimpan di dalam kepala, sedangkan dirinya sudah terwujud. Yah semoga dengan pertemuan ini bisa memperluas jaringan persahabatanku dengan orang lain. O... ia thanks buat kadonya yah....^_^  

Senin, 28 November 2011

Indonesia Ku Yang Malang




Beberap hari ini saya menyaksikan sebuah reality show yang ditayangkan oleh salah satu stasiun tv swasta, acara ini menayangkan keseharian sebuah keluarga miskin yang berjuang untuk hidup dan melakukan berbagai macam pekerjaan agar dapat menyambung hidup di keesokan harinya.

Saat menyaksikan acara ini saya pun berpikir, apakah para pemegang kekuasaan di indonesia ini tidak punya televisi?

Ataukah mereka terlalu sibuk untuk bisa menyaksikan acara-acara di televisi?
Tapi sibuk untuk apa?

Sibuk untuk mengurusi rakyat atau apa?

Kalau mereka sibuk mengurusi rakyat, kenapa masih ada rakyat miskin yang begitu kesulitan mendapatkan kenikmatan dunia di era modernisasi seperti ini.

Tablet PC, Handphone canggih, Laptop dan kemewahan-kemewahan lainnya begitu mudah kita dapatkan tetapi di luar sana masih banyak orang yang begitu menderita dalam menjalani hidupnya. Tiap hari kita bisa dengan mudahnya makanan di restoran mahal, namun ketika makanannya kurang enak kita bisa mengabaikan makanan tersebut.

Ke mana hati nurani kita?

Ke mana mata para wakil rakyat?

Ke mana kepekaan para pejabat?

Bukankah ketika pemilu mereka begitu dekatnya dengan masyarakat.
Miris hati ini ketika melihat realita-realita yang ada di negaraku ini. Tak sanggup rasanya melihat semua sikap diskriminatif yang terjadi. Bukan karena tidak punya kekuatan untuk menulisnya, namun karena saya tidak mau bersaing dengan malaikat mungkar dan nakir yang bertugas mencatat dosa-dosa mereka. Biarkan Tuhan dan diri mereka sendiri yang tahu segala keburukan yang ada di negara ku ini.

Bukannya sudah tidak ada kebaikan di negara ku ini namun saya bingung, kenapa pihak yang semestinya bertanggung jawab memperbaiki kehidupan rakyat, kesulitan dalam mewujudkan mimpi-mimpi rakyatnya. Padahal mereka memiliki berbagai kewenangan dan hak khusus agar memajukan kesejahteraan rakyat.